rindasiaga

sharing is the best way to learn, at least for now :D

Ayahku Kades Telaga Biru Part 1

1

Menuk Kliwon Romadhona

Angin sepoi-sepoi di tengah rerumputan nan hijau. Meliuk-liuk disela bajuku yang kedodoran. Wusss… lenyaplah sudah keringat diketek ini. Kubuka lebar kedua lenganku. Kubaringkan tubuhku yang hitam manis di atas bumi. Perlahan tetapi pasti, kulepaskan pandanganku. Jauuuuh sekali. Ku lihat awan putih di langit. Kuamati setiap perubahan bentuk tubuh mereka. Gumpalan-gumpalan awan itu mengajakku bermain tebak-tebakkan. “Setelah hitungan kesepuluh, akan berubah menjadi apa ya awan itu?”  Kupicingkan mataku ke arahnya. Wah… awannya berubah menjadi bulat seperti donat, adalagi yang berbentuk  tanduk seperti kumis bapakku. “Walah… kumis bapakku?! Kayanya lebih tepat seperti tanduk… tanduk… tanduk si Kliwon!!!!”

“Kliwoooonnn!!! Wonnn!!! Kliwonnn!!!”

Kupanggil-panggil kambing kesayanganku itu. Karena dia suka pergi meninggalkanku. Entahlah. Aku tak tahu kemana rimbanya. Apalagi kalau sedang ngambek. Bisa pusing aku dibuatnya.

Setiap sore aku selalu menggembala Kliwon ke padang rumput di dekat sawah milik bapakku. Aku memang sangat menyayangi Kliwon. Soalnya, kalau bukan Kliwon, kambingku yang paling montok itu, tak ada lagi yang bisa kuajak bermain. Maklumlah, aku ini anak tunggal. Kedua orangtuaku tak mau memberikanku adik. Alasannya sih sepele, kata ibu, dari kecil aku sudah hobi menghabiskan beras. Makanya, kalau aku punya adik, nanti jatah gabah yang harusnya bisa disimpan untuk satu tahun, bisa-bisa habis dalam enam bulan. Aku tak tahu alasan ibuku itu benar atau tidak. Tapi yang jelas sekarang aku sudah punya Kliwon.

Mbeekkk…”

Suara mengembek Kliwon memiliki ciri khas yang bisa membedakannya dengan kambing-kambing lain. Menuk Kliwon Romadhona, begitulah nama lengkap kambingku, ia memiliki cita rasa suara yang syahdu dan sedikit serak-serak basah. Jika mengembek, suaranya tidak bisa kencang seperti kambing seusianya. Dan selalu terdengar sedikit desahan dari suara itu. Yeah… itulah Kliwonku. Aku juga tak pernah putus berharap, agar suatu hari nanti Kliwon bisa berubah menjadi seorang gadis cantik yang bisa mendampingiku. Karena aku tak mau terus-terusan menjadi jomblo forever

Kulihat badan Kliwon dari jarak sekitar tujuh meter. Dia sedang asik sekali makan. Sepertinya rumput hijau yang tengah dilahapnya, ibarat sambel tumpang yang dibuat ibu. Sambel tupang yang masih hangat, lengkap dengan sayur kangkung dan toge rebus, terus dikasi tahu goreng setengah mateng, terus dikasi krupuk, terus minumnya es blewah… weleh-weleh… jadi laper aku.

”Won!!! Kita pulang yuk!” teriakku sambil rebahan di atas rumput.

Mbeeekkk….”

Aku tak mengerti apa yang dikatakan oleh Kliwon. Tapi dari ekspresi wajahnya aku bisa menangkap ungkapan tidak rela jika aku menggendongnya pulang. Meskipun Menuk Kliwonku hanyalah seekor kambing, tapi dia sudah seperti saudarakau. Kugendong ia kemana-mana. Kuberi makan, ku beri susu agar dia tidak osteoporosis. Semuanya kulakukan buat Kliwon.

Kutajamkan lagi penglihatanku pada awan di langit. Kubayangkan jika tiba-tiba ada sesosok bidadari cantik yang datang dari balik awan dan menyapaku. ”Mas Kolek…” Hihihi… bener-bener ngga nguati aku… tak uk uk!!! terus saja aku memikirkan, bagaimanakah keelokan bidadari itu. Tiba-tiba saja aku teringat dengan seorang gadis yang sangat ciamik cantiknya. Sumi namanya. Sumilah Kusumaredja Merekah. Ahai… betapa indah nama itu, seindah wajahnya yang rupawan. Sumi… Sumi… gadis cantik kembang desa. Rambutnya panjang, matanya belok, kulitnya kuling langsat, semampai, langsing, senyumnya menawan… Ahhhh… pokonya YAHUT!!! ”Sum…sum… kapan kamu bisa jadi milikku……”  Khayalku sambil tersenyum-senyum.

”Kol… Koleeeek!!!!”

Tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang memanggilku. Lalu kutolehkan wajahku ke arah panggilan itu. Ternyata si Toyo cucunya Mbah Tirto, dalang paling disegani di desaku. Sebenarnya aku malas sekali bertemu dengan Toyo. Orangnya sok tau dan suka pamer harta kekayaan bapaknya. Memang sih Pak Jarwo salah satu orang terkaya di desa Telaga Biru ini. Tapi bapakku juga ngga kalah kaya kok sama keluarganya. Dari kecil bapakku dan bapaknya Toyo tak pernah berhenti untuk selalu bersaing agar bisa menjadi yang terbaik. Yah… Maklumlah, di desaku ini yang paling kaya kan cuma keluargaku dan keluarganya Pak Jarwo. Jadi kami selalu bersaing untuk bisa menjadi yang terkaya dan terhormat.

Woi… Kolek… kamu masih saja ngga maju-maju ya ternyata. Orang lain pada beli sapi dan kerbau untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan. Eeee… malah kamu ini masih saja betah sama si Kliwon. Kambingmu yang kacrut itu. Kayak aku gini dong… gembalaanku Sapi Brahma. Gagah, jantan, dan kuat lagi…”

”Berisik ah!!! Mending kamu pergi saja. Jangan ganggu aku!”

Wew… dasar gembrot!!! Bisanya cuma makan tidur makan tidur… makanya bapakmu ngga kaya-kaya. Lha orang anaknya yang dipikir cuma perutnya saja! Weeeek!!!!” ledek Toyo.

Ihhh!! Aku benar-benar kesal sekali sama Toyo. Kenapa sih dia itu selalu saja menggangguku. Aku memang gendut. Oversize malah. Tapi toh orang tuaku tidak mempermasalahkannya. Dia saja mungkin, yang ngga pernah dikasi makan banyak sampai kerempeng begitu. Tapi. Kalau ku pikir-pikir Toyo itu ganteng juga. Kulihat perawakannya yang tinggi, kekar, tangannya kuat, dadanya lebar, perutnya segi empat, wajahnya yaaa lumayan maco juga. Kok beda sekali denganku ini. Tubuhku yaaahhh… gemuklah, dikit. Terus.. wajahku, emmm… bulat sih…dikit. terus perutku… emm… buncit sih dikitttt. Tapi aku punya senyuman maut yang bisa membuat semua harim di desa ini klepek.klepek dibuatnya… hihihi

Setelah Toyo berlalu, aku pun melihat lagi ke lagit biru. Lagit yang luas. Tak terbayangkan, betapa empuknya awan-awan yang terhampar di antara langit itu. Andainya aku bisa tidur terlentang di atas awan. Lembuuut sekali. Terasa nikmat. Apalagi jika aku dikelilingi oleh bidadari-bidadari yang cantik luar biasa. Wajahnya putih bersinar, bodinya aduhai, baunya wangi, rambutnya panjang kruel-kruel, bajunya bagus dan berkilau, matanya indah, bibirnya tipis menawan, pipinya merah merona, hidungnya mancung, dagunya lancip, tangannya mungil bersih, kakinya indah… Edaaannn!!!! Perfecto.

Dalam khayalanku, aku juga berharap agar aku bisa menjadi seorang pangeran langit yang diidamkan oleh para gadis cantik termasuk Sumilah. Seandainya saja aku mempunyai kekuatan untuk bisa berubah wujud menjadi lelaki yang gagah perkasa dan kaya raya. Pasti semua keinginanku itu akan mudah untuk kugapai. Huft… tapi itu hanya mimpi… Soalnya kalau dipikir-pikir, selama 18 tahun aku menghirup udara di dunia ini, selama itu pula aku selalu hidup dalam kesepian. Hanya orang tua dan saudara-saudaraku yang menjadi teman hidup selama ini. Rasanya belum pernah aku bisa mereguk kasih dari setangkai bunga mawar idamanku. Jangankan sampai menghisap madunya, baru melihat saja aku sudah ditolak.

”Kamu ngapain sih?! Hanya orang-orang ganteng saja yang boleh menatapku seperti itu. Kamu kan ngga termasuk dalam hitungan orang ganteng. Jadi jangan mimpi deh buat bisa dekat sama aku!”

Sepertinya kata-kata Sumi itu menjadi sebuah tamparan keras bagiku. Hancur hatiku megingatnya lagi. Sumi, teman sekolah sekaligus tetanggaku yang super cantik, menolak untuk kulihat, apalagi kalau kuajak bicara. Pasti dia bakal kalang kabut untuk membuat ribuan alasan penolakan. ”Oh Tuhan… mengapa kau ciptakan hamba sejelek ini…” rintihku dalam hati.

Kututup mataku sejenak. Kupikirkan dalam-dalam, apa yang sebenarnya salah dalam diriku. Aku selalu saja bingung dengan perempuan yang hanya mementingkan kesempurnaan fisik semata. Bukan hatinya. Mereka mungkin lebih suka dengan laki-laki yang hanya memberikan kepuasan dalam pergaulan sosial. Memiliki pacar yang ganteng dan kaya merupakan prestasi terbesar dalam hidup gadis-gadis di desaku ini. ”Uhhh!!! memang wanita disini pada buta matanya… Sampai-sampai mereka tak memberiku ruang untuk bisa mendekati dan berbagi cerita! Padahal kan kata ibuku, aku ini anak laki-laki yang paling ganteng dan pintar…. Eh ya.. satu lagi, dan soleh jangan lupa.” pujiku dalam hati. Sambil teresenyum-senyum sendiri, kulanjutkan lagi anganku. Dengan disaksikan oleh rumput yang bergoyang dan terik mentari yang mentransmisikan cahaya bagi kehidupan umat manusia.

Aku sering menjadi muadzin di surau kami. Suaru yang menjadi satu-satunya tempat peribadatan bagi penduduk di desa yang sepi ini. Desa yang memang sangat jauh sekali dari keramaian kota. Desa yang sangat terpencil. Namun demikian, desaku ini sangat eksotis. Penuh dengan kekentalan adat. Dan masih suci dari debu-debu pembangunan gedung pencakar langit. Minimnya teknologi modern yang masuk ke desaku, membuat para generasi muda disini masih sangat polos. Tak tersentuh dengan dominasi negatif internet. Dan tak tergoda dengan dunia malam seperti dugem indehoy.

Heh! Kolek! Kamu masih disitu. Sebentar lagi kan salat ashar. Kamu ngga ke surau ya…” teriak Toyo dari kejauhan.

”Ya ke surau lah. Memangnya kamu. Baru sekali saja datang ke surau, hebohnya minta ampun!” jawabku ketus.

”Biasa aja kaleee!!! Tapi kalau direnungkan secara mendalam, kasihan juga ya orang tuamu itu Lek… Sudah punya anak cuma satu-satunya, ngga bisa diandalkan, hobinya menghabiskan beras, sekolahnya pas-pasan, eeee… sekarang malah ogah-ogahan ke surau… mau jadi apa kamu Lek…Lek…”

”Toyo, kamu ini benar-benar sudah kurang ajar… Sini, tak sumpel mulutmu yang bau menyan itu sama rumput!!!”

Ihhh takuuuut… hehehe…”

Tak jera-jeranya si Toyo anak juragan terong itu meledekku. Wataknya memang sangat mirip sekali dengan bapaknya, Sujarwo Mangkulangit. Heh! Biarin aja, kalau aku sudah dewasa nanti, aku akan bersaing dengan keluarga Pak Jarwo yang sangat sombong itu. Akan kutunjukkan bahwa trah Wilwaditikto Honocoroko tidak bisa dianggap enteng. Apalagi oleh anaknya yang sok tahu itu, Toyo Mangkulangit.

”Kliwon!!! Kamu sudah selesai belum?”

Mbeeekkk…”

Bukan main, si Kliwon benar-benar tak ada kenyangnya. Dia tak mau ku ajak pulang. Aku jadi heran, kok ada ya kambing cewek yang makannya buanyak buanget begitu…

Huft… lebih baik ku tunggu dia satu jam lagi. Ku rebahkan badan yang berat ini sembari menunggu Menuk Kliwonku yang semok alias seksi lan montok. Kliwon merupakan kambing betina yang masih perawan. Badannya yang sekel dan berisi, sering membuatnya digodai oleh kambing-kambing jantan hidung belang. Tentu saja aku tak terima. Dari lahir kan aku sudah mengurusi Kliwon. Kumandikan dia, kuberi makan, ku ajari berjalan, bahkan terkadang ku ajak dia sekolah untuk menemaniku. Kliwon… Kliwon… ngga kerasa, sekarang kamu sudah berusia dua tahun. Sudah montok dan seksi. Coba kalau kamu ini manusia, sudah kupacari dari dulu. Kamu putih, bulumu lembut, badanmu bagus, benar-benar menggoda. Hehehe

Tapi ternyata gumparan-gumparan awan di langit tak lelah memanjakan mataku. Lalu kupalingkan wajahku dari Kliwon. Kutamatkan penglihatanku jauh ke atas sana. Sepertinya langit di depanku ini penuh dengan inspirasi. Aku jadi lebih mendapatkan kenyamanan jika melihatnya. Aku pun semakin terbuai dengan panorama itu…

***

to be continued

April 13, 2011 - Posted by | my fiction brainstrom story

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: